Binatang Mitos

Naga

Naga ialah sebutan umum untuk makhluk mitologi yang berwujud reptil berukuran raksasa. Makhluk ini muncul dalam berbagai kebudayaan. Pada umumnya berwujud seekor ular besar, namun ada pula yang menggambarkannya sebagai kadal bersayap.

Istilah naga merupakan kata serapan dari bahasa Sansekerta atau India kuno yang bermakna “ular”. Dalam naskah Mahabharata dikisahkan bahwa para Naga merupakan anak-anak Resi Kasyapa dari perkawinannya dengan Dewi Kadru. Nama-nama mereka yang terkenal antara lain Sesa, Taksaka, Basuki, Karkotaka, Korawya, dan Dritarastra. Bangsa Naga yang berjumlah ribuan memiliki dua orang sepupu berwujud burung dan disebut sebagai bangsa Kaga. Keduanya bernama Aruna dan Garuda, yang merupakan putra dari Dewi Winata yang juga dinikahi Resi Kasyapa. Dengan demikian, hubungan antara Naga dengan Kaga selain sebagai sepupu juga sebagai saudara tiri. Meskipun demikian hubungan mereka kurang baik dan sering terlibat perselisihan. Di antara para Naga ada pula yang menjadi dewa, yaitu Sesa, yang tertua di antara putra Kadru. Ia memisahkan diri dari adik-adiknya dan hidup bertapa menyucikan diri. Ia akhirnya diangkat sebagai dewa para ular, bergelar Ananta.

Cina
Dalam tradisi Cina juga terdapat makhluk bernama Liong atau Lung yang umumnya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan istilah naga. Makhluk ini digambarkan sebagai ular berukuran raksasa, lengkap dengan tanduk, sungut, dan cakar, sehingga berbeda dengan naga
India.
Naga versi Cina dianggap sebagai simbol kekuatan alam, khususnya angin topan. Pada umumnya makhluk ini dianggap memiliki sifat yang baik selama ia selalu dihormati. Naga dianggap sebagai penjelmaan roh orang suci yang belum bisa masuk surga. Biasanya roh orang suci menjelma dalam bentuk naga kecil dan menyusup ke dalam bumi untuk menjalani tidur dalam waktu lama. Setelah tubuhnya memebesar, ia bangun dan terbang menuju surga.
Sebagian ilmuwan berpendapat, naga Cina merupakan makhluk khayal yang diciptakan oleh masyarakat zaman dahulu akibat penemuan fosil dinosaurus. Makhluk ini juga dikenal dalam kebudayaan Jepang dengan istilah Ryuu.
Naga di dalam shio memiliki arti kebenaran. Arti lain adalah perlindungan dan keperkasaan. Shio naga ada pada tahun 2000, 1988, 1876, 1964, 1952, 1940 . Shio naga memiliki kemampuan mulut yang baik dan sayangnya sering membuatnya celaka.

Kalimantan
Naga dalam budaya Kalimantan, kususnya suku Dayak dan suku Banjar dianggap sebagai simbol alam bawah. Naga digambarkan hidup di dalam air atau tanah dan disebut sebagai Naga Lipat Bumi. Naga merupakan perwujudan dari Tambun yaitu makhluk yang hidup dalam air.
Menurut budaya Kalimantan, alam semesta merupakan perwujudan “Dwitunggal Semesta” yaitu alam atas yang dikuasai oleh Mahatala atau Pohotara, yang disimbolkan enggang gading (burung), sedangkan alam bawah dikuasai oleh Jata atau Juata yang disimbolkan sebagai naga (reptil). Alam atas bersifat panas (maskulin) sedangkan alam bawah bersifat dingin (feminim). Manusia hidup di antara keduanya.
Dalam budaya Banjar, alam bawah merupakan milik Puteri Junjung Buih sedangkan alam atas milik Pangeran Suryanata, pasangan suami isteri yang mendirikan dinasti kerajaan Banjar. Setelah berkembangnya agama Islam, maka oleh suku Banjar alam atas dianggap dikuasai oleh Nabi Daud, sedangkan alam bawah dikuasai oleh Nabi Khidir Dalam arsitektur rumah Banjar, makhluk naga dan burung enggang gading diwujudkan dalam bentuk tatah ukiran, tetapi sebagai budaya yang tumbuh di bawah pengaruh agama Islam yang tidak memperkenankan membuat ukiran makhluk bernyawa, maka bentuk-bentuk makhluk bernyawa tersebut disamarkan atau didistilir dalam bentuk ukiran tumbuh-tumbuhan.

Eropa
Mitos dan dongeng rakyat tentang naga juga telah tumbuh di dunia Barat sejak berabad-abad silam. Naga di dunia Barat digambarkan sebagai kadal besar dengan 2 tangan dan 2 kaki yg memiliki sayap begitu besar, juga memiliki kemampuan untuk menyemburkan lidah-lidah api dan digambarkan memiliki gua bawah tanah. Naga seperti ini adalah naga yang terlihat dalam film Harry Potter and the Goblet of Fire’. Naga ini selalu digambarkan memangsa manusia.

Griffin (Yunani: gryphos ; Persia: ??????; shirdal : “singa-rajawali” ) (disebut juga Gryphon) adalah makhluk legendaris bertubuh singa tetapi bersayap dan berkepala rajawali. Selayaknya singa, makhluk ini menjadi “Raja hewan buas” dan sebagai burung rajawali, ia menjadi “Raja di udara”. Oleh sebab itu, Griffin merupakan penggambaran makhluk yang paling berkuasa atas kedua hal tersebut dan dijuluki sebagai “Raja hewan buas dan penguasa udara”.

Di dalam tradisi masyarakat Mesopotamia nama makhluk seperti ini tidak diketahui. Dalam bahasa Akkadian, makhluk bertubuh singa, berkepala dan bersayap rajawali lebih dikenal dengan sebutan kuribu. Kata kuribu berasal dari kata karabu yang biasanya digunakan sebagai formula berkat. Dari kata kuribu ini kemudian muncul kata keruv (dalam bahasa Inggris: cherub) yang digunakan di dalam teks-teks Alkitab untuk menunjuk pada makhluk sorgawi yang bersayap. Di dalam tradisi Yunani, makhluk ini digambarkan sebagai makhluk yang cukup berbahaya dan tinggal di gunung-gunung.

Unicorn adalah makhluk dalam legenda yang wujudnya merupakan kuda, dengan sebuah tanduk di dahinya (kata “cornus” dalam bahasa Latin dihubungkan dengan kata “horn” yang berarti tanduk). Biasanya bulu Unicorn berwarna putih dan tanduknya berbentuk spiral. Darah Unicorn merupakan obat yang mujarab dan mampu membuat hidup abadi.

Okapi (Okapia johnstoni) adalah mamalia dari Hutan Hujan Ituri di Afrika Tengah. Walaupun hewan ini memiliki kesamaan belang kulit dengan zebra, okapi memiliki perkerabatan lebih dekat dengan jerapah. Kemiripannya dengan zebra dan jerapah menimbulkan dugaan adanya persilangan antara keduanya, tapi walaupun adanya kesamaan ciri tertentu, hewan ini sebenarnya tidak secara dekat berkerabat dengan zebra. Hewan yang berasal dari Hutan Hujan Ituri di timur laut Republik Demokratik Kongo ini baru diketahui oleh penduduk setempat pada tahun 1901.

Khimaira (Yunani: ??µa??a; Chímaira) adalah makhluk legendaris dari mitologi Yunani yang merupakan gabungan dari tiga hewan: ular, kambing, dan singa. Berbadan kambing, berekor ular, dan berkepala singa, namun beberapa kisah mengatakan kepalanya terdiri dari dua hewan (kambing dan singa), atau gabungan dari ketiga hewan tersebut. Khimaira mampu menyemburkan api dari hidung dan mulutnya. Kadang-kadang Khimaira menjadi lambang kekuatan setan.
Menurut mitologi, Khimaira merupakan puteri dari Tifon dan Ekhidna, dan bersaudara dengan beberapa monster dalam legenda, seperti anjing Kerberos dan Hidra dari danau Lernai.
Khimaira berhasil dikalahkan oleh Bellerofon sambil menunggangi Pegasus (kuda bersayap), atas perintah Raja Iobates dari Likia. Ia mengalahkan Khimaira dengan lembing dan memenggal kepala makhluk itu.

Kentaur, Dalam mitologi Yunani, kentaur (dari bahasa Yunani: ???ta????, “Kéntauros”) atau Hippokentaur adalah makhluk yang berwujud setengah manusia setengah kuda. Dalam lukisan vas Attika dan Boiotia awal, kentaur digambarkan berupa bagian belakang kuda yang menyatu dengan tubuh manusia yang utuh.
Sementara dalam perkembangan selanjutnya, penggambaran kentaur adalah bagian tubuh manusia (dari kepala sampai pinggang) yanng menyatu dengan gumba kuda.


Komposisi setengah-manusia dan setengah-hewan ini telah membuat banyak penulis menganggap kentaur sebagai makhluk liminal, berada di antara dua sifat, diceritakan dalam mitos yang berlawanan, baik sebagai perwujudan dari alam liar, seperti ketika para kentaur berperang dengan suku Lapith, atau sebaliknya sebagai guru, contohnya Kheiron.
Kentaur biasanya disebut terlahir dari hubungan Iksion dan Nefele (dewi awan yang dibuat sesuai wujud Hera). Versi lainnya adalah bahwa ras kentaur merupakan keturunan Kentauros, yang berhubungan seksual dengan kuda-kuda betina di Magnesia. Kentauros sendiri kemungkinan adalah putra Iksion dan Nefele atau putra Apollo dan Stilbe, putri dewa sungai Peneus.
Dalam versi yang kedua, Kentauros memiliki saudara bernama Lapithos, leluhur suku Lapith. Dengan demikian, ras kentaur dan suku Lapith, yang bermusuhan, masih merupakan saudara.
Kentaur dikatakan menghuni daerah Magnesia dan Gunung Pelion di Thessalia, hutan ek Foloi di Elis, dan semenanjung Maleia di Lakonia selatan.
Kentaur muncul secara individual atau berkelompok dalam kisah-kisah Yunani kuno, seperti pada kisah penculikan Deianeira oleh Nessos dan kisah perkawinan Pirithous. Kentaur individual yang terkenal adalah Nessos, Kheiron, Folos, Eurition. Banyak kentaur yang muncul dalam kisah Herakles.

Kata kentauros dalam bahasa Yunani secara umum dianggap memiliki asal usul yang tidak jelas. Etimologi dari ken – tauros, “banteng yang menusuk-pelekat” merupakan sebuah pendapat yang Euhemeris dari Palaifatos dalam karyanya, Dalam Kisah-kisah Luar Biasa (?e?? ?p?st??): para pemanah berkuda dari desa yang disebut Nefele membunuh sekawanan banteng yang mengganggu kerajaan Iksion.
Kemungkinan asal kata lainnya dari kentauros adalah “pembunuh banteng”. Beberapa sejarawan berpendapat bahwa bangsa Yunani mengadopsi rasi bintang Centaurus dan juga namanya “banteng yang menusuk”, dari Mesopotamia. Di sana, rasi bintang itu merupakan simbol dewa Baal yang melambangkan hujan dan kesuburan. Dia bertarung melawan iblis Mot, yang melambangkan kekeringan di musim panas, dan dengan tanduknya Baal “menusuk” Mot.
Di Yunani, rasi bintang Centaurus diamati oleh Eudoksos dari Knidos pada abad keempat SM dan oleh Aratos pada abad ketiga. Alexander Hislop, dalam karyanya, The Two Babylons: Papal Worship Revealed to be the Worship of Nimrod and His Wife, berpendapat bahwa kata itu berasal dari bahasa Semit: Kohen dan “tor” (pergi berputar). Melalui perubahan fonetis, konsonan yang kurang penting menghilang seiring waktu, dan kata itu berkembang menjadi Khen Tor atau Ken-Tor, dan ditransliterasi secara fonetis ke dalam bahasa Yunani Ionia sebagai Kentaur, namun pendapat ini tidak diterima oleh para filolog (ahli bahasa) modern.

Pertarungan antara kentaur dan orang Lapith, relief marmer di kuil Parthenon, Athena.
Asal usul

Teori paling umum mengenai asal usul legenda kentaur adalah bahwa legenda tersebut muncul atas reaksi dari bangsa yang bukan penunggang kuda, seperti dunia Aigea Minoa, terhadap kaum nomad yang menunggang kuda.
Teori ini menyatakan bahwa para penunggang kuda pada awalnya dilihat sebagai makhluk setengah manusia setengah kuda. Bernal Díaz del Castillo melaporkan bahwa salah tafsir semacam ini pernah terjadi ketika bangsa Aztek pertama kali melihat para penunggang kuda Spanyol. Budaya penjinakkan kuda sendiri dimulai pertama kali di padang stepa selatan di Asia Tengah, kemungkinan di Kazakhstan modern.
Suku Lapith di Thessalia, yang masih merupakan sanak famili kentaur, digambarkan oleh para penulis Yunani kuno sebagai penemu kebudayaan menunggang kuda. Suku-suku di Thessalia juga mengklaim bahwa kuda-kuda mereka merupakan keturunan dari para kentaur.
Dari berbagai penulis Yunani klasik yang menyebutkan tentang kentaur, Pindaros adalah yang pertama kali menggambarkan suatu monster campuran.
Para penulis sebelumnya (Homeros) hanya menggunakan kata-kata semacam pheres (bandingkan dengan theres, “hewan buas”). yang juga bisa bermakna “orang biadab yang menunggangi kuda”. Namun penggambaran kentaur hibrida dari masa yang sama dapat ditemukan dalam seni Yunani arkais.
Lucretius dalam sajak filsafatnya De rerum natura (abad pertama SM) menolak keberadaan kentaur berdasarkan tingkat pertumbuhan mereka yang berbeda. Dia menyatakan bahwa pada usia tiga tahun, kuda ada pada masa utama hidup mereka sedangkan manusia berusia tiga tahun tidak lebih dari bayi mungil, sehingga tidak mungkin ada makhluk campuran manusia dan kuda.[11]
Robert Graves (mengandalkan karya Georges Dumezil[12] yang berpendapat bahwa legenda kentaur berasal dari bidadara India) berspkelusasi bahwa kentaur hanya samar-samar diingat, dan kemungkinan berasal dari kultus persaudaraan bumi pra-Hellen yang menggunakan totem kuda.[13]
Teori serupa juga terdapat dalam The Bull from the Sea karya Mary Renault. Kinnara, makhluk berwujud setengah burung setengah manusia dari mitologi India, muncul dalam berbagai naskah kuno, seni dan juga patung serta relief di seluruh India. Makhluk tersebut digambarkan sebagai seekor burung dengan torso manusia di tempat kepala burung seharusnya berada, sehingga mirip dengan kentaur Yunani.[14][15]

Kentaur pada khantaros dari Boiotia, Periode Geometris Akhir (Museum Louvre).
Identifikasi sementara terhadap dua patung terakota Mikenai fragmentaris sebagai kentaur, di antara tembikar Mikenai yang ditemukan di Ugarit, mengindikasikan bahwa mitos kentaur berasal berasal dari Zaman Perunggu.[16]
Sebuah kentaur terakota yang berwarna ditemukan di “makam Pahlawan” di Lefkandi. Pada Periode Geometris, figur kentaur adalah salah salah satu tokoh terawal yang dilukis pada tembikar Yunani. Sebuah prasasti berbentuk prajurit yang berhadapan dengan satu kentaur kini ada Metropolitan Museum of Art.
Benda tersebut berasal dari periode Geometris dan sering dipamerkan untuk umum.[17]

Dalam mitologi
Kentauromakhia
Salah satu legenda terkenal mengenai kentaur adalah pertempuran mereka melawan suku Lapith. Pertempuran tersebut dikenal sebagai Kentauromakhia (“Perang kentaur”) dan bermula pada pesta pernikahan Pirithous, raja Lapith.
Pirithous mengundang para kentaur untuk menghadiri pesta pernikahannya. Di sana mereka disuguhi dengan minuman anggur yang membuat sifat liar mereka muncul. Ketika Hippodameia, sang mempelai wanita, muncul di depan hadirin, kentaur Eurition melompat dan berusaha memperkosanya. Serentak, para kentaur yang lain mengikuti ulah Eurition. Masing-masing kentaur mencoba memperkosa perempuan yang ada di pesta tersebut.
Orang-orang Lapith tidak tinggal diam dan melawan para kentaur. Akibatnya terjadilah pertempuran antara ras kentaur dengan suku Lapith. Theseus, pahlawan sahabat Pirithos, ikut membantu melawan para kentaur. Dalam pertempuran tersebut, pasukan Lapith berhasil memotong telinga dan hidung Eurition, lalu melemparkannya.
Pada akhirnya para kentaur berhasil dikalahkan.[18][19][20] Mereka lalu melarikan diri dari Thessalia ke arah barat laut.
Salah satu pahlawan Lapith yang terbunuh adalah Kaineus. Dia adalah pahlawan Lapith yang terkenal. Kaineus pada awalnya adalah seorang perempuan bernama Kaenis yang disukai oleh Poseidon. Kaenis membiarkan tubuhnya dinikmati oleh Poseidon dengan syarat Poseidon mengubahnya menjadi seorang lelaki yang jago bertempur dan kebal terhadap senjata. Kaenis ingin berubah menjadi lelaki supaya tidak mudah diperkosa lagi. Setelah menjadi pria, Kaenis berganti nama menjadi Kaineus.
Dalam Kentauromakhia, Kaineus mengalahkan banyak kentaur sampai akhirnya dia dihantam dengan batu besar dan batang pohon besar oleh para kentaur. Kaineus pun terjatuh menembus bumi sampai dunia bawah dan muncul kembali sebagai seekor burung.
Dalam konteks-konteks selanjutnya, para kentaur tidak dikalahkan dengan mudah. Rujukan Mitos menjelaskan kehadiran suku Lapith primitif ke dalam masa sejarah di Maleia dan di benteng penyamun Foloi di Elis sebagai sisa-sisa kelompok yang diusir ke sana oleh para kentaur.
Ketika mitologi Yunani semakin dihubungkan dengan filsafat, pertempuran antara suku Lapith dengan ras kentaur menjadi simbol dari konflik antara suku beradab melawan bangsa barbar. Para pematung Yunani dari sekolah Feidias memahami pertempuran antara kentaur melawan Lapith sebagai perjuangan antara umat manusia melawan monter yang jahat, dan secara simbolis melambangkan konflik antara bangsa Yunani yang “beradab” melawan Persia yang “tidak beradab”. Kisah Kentauromakhia diabadikan dalam bentuk dekorasi di kuil Parthenon di kota Athena. Hal tersebut wajar mengingat raja Athena, Theseus, adalah sahabat raja Lapith, Pirithous. Hiasan bertemakan Kentauromakhia juga ada di kuil Zeus di Olympia.[21] Kisah Kentauromakhia juga menjadi tema yang umum pada lukisan vas Yunani.

Penyair Prancis José María de Heredia (1842-1905) membuat sebuah soneta yang menceritakan mengenai pertempuran kentaur. Soneta tersebut dimasukkan dalam volumenya Les Trophées.[22] Pada masa Renaisans, pertempuran kentaur menjadi tema yang banyak diusung oleh para seniman. Michelangelo muda membuat sebuah relief marmer bertemakan kentauromakhia di Firenze sekitar tahun 1492.[23] Ilustrasi tentang kentauromakhia buatan Piero di Cosimo, yang kini berada di National Gallery, London,[24] dilukis pada dekade berikutnya.
Kentaur terkenal

Eurition
Eurition adalah kentaur yang memulai perang antara bangsa kentaur dengan suku Lapith.
Pada pesta pernikahan Pirithous, raja suku Lapith, dengan Hippodameia, Euriton meminum anggur dan menjadi mabuk. Dia mencoba menculik Hippodamiea sang pengantin wanita. Tindakannya ini diikuti oleh kentaur-kentaur yang lain. Akibat perbuatannya, terjadilah Perang Kentaur.
Pada pertempuran itu, para kentaur diusir dari daerah suku Lapith dan Eurition sendiri mati terbunuh.

Penculikan Deaneira oleh Guido Reni.
Nessos
Nessos adalah salah satu Kentaur yang terlibat dalam Perang Kentaur. Ketika para kentaur kalah dan diusir, sebagian besar pergi ke Gunung Folos di Arkadia. Namun Nessos malah pergi ke barat menuju sungai Evenos. Di sana dia menjadi penyeberang bagi orang-orang yang hendak lewat.
Suatu hari Herakles dan istrinya Deianeira datang ke sungai itu. Nessos menawarkan diri untuk menyeberangkan Deianeira. Herakles setuju dan menyeberang terlebih dahulu. Namun ketika Nessos sudah memangku Deianeira, Nessos malah mencoba membawa kabur dan memperkosa Deianeira, akibatnya Deianeira pun berteriak meminta pertolongan suaminya. Mendengar teriakan istrinya, Herakles langsung memanah Nessos dengan anak panahnya yang telah diolesi darah beracun Hidra. Setelah terpanah, Nessos langsung terjatuh tak dapat berkutik lagi.
Dalam keadaan sekarat, Nessos memberitahu Deianeira bahwa darahnya ajaib, dan jika Herakles memakai pakaian yang telah dicelup dengan darahnya, maka Herakles tak akan pernah berpaling dari Deianeira selamanya.[25] Deianeira percaya pada kata-kata Nessos. Suatu ketika Deianeira khawatir bahwa Herakles mencintai perempuan lain, Deianeira mengikuti saran Nessos dan memberi Herakles pakaian yang telah dicelup dengan darah Nessos. Padahal darah Nessos sudah tercampur dengan darah beracun Hidra sehingga Herakles mati terbakar setelah mengenakan pakaian itu.

Folos
Folos adalah kentaur yang yang ramah pada manusia, dia berteman baik dengan Herakles. Folos tinggal di sebuah gua di Gunung Folos, yang dinamai dari namanya, di Arkadia. Folos memiliki minuman anggur yang bisa membuat para kentaur bertindak gila.
Suatu hari, Herakles datang berkunjung dalam rangka menjalankan tugas keempatnya. Untuk menjamu tamunya, Folos menyiapkan minuman anggur. Namun aroma anggur itu tercium oleh para kentaur. Para kentaur mulai mabuk dan menyerang gua tempat Herakles dan Folos berada. Herakles balas menyerang para kentaur dengan panahnya yang telah diolesi darah beracun Hidra, sebagian mati dan sebagian kabur.
Folos lalu keluar dan merasa heran bagaimana sebuah panah bisa membunuh kentaur. Secara tak sengaja Folos menjatuhkan sebuah panah pada kukunya, dia langsung mati seketika itu juga. Mayat Folos dikuburkan oleh Herakles.

Kheiron
Kheiron adalah kentaur yang paling terkenal. Kheiron Berbeda dengan kentaur-kentaur lainnya,[26] mulai dari kelahiran sampai karakteristiknya.
Titan Kronos memperkosa Filira[27] dalam wujud seekor kuda jantan,[28][29] dan dari hubungan itu Filira melahirkan Kheiron, seorang kentaur. Karena ayahnya adalah seorang Titan, Kheiron pun terlahir sebagai kentaur yang abadi.
Kheiron merupakan kentaur yang bijaksana dan ahli dalam pengobatan, astrologi, dan ramalan. Kheiron bersahabat dengan banyak pahlawan, termasuk Herakles dan Peleus. Kheiron bahkan merupakan guru bagi beberapa pahlawan, misalnya Iason[30][31] dan Akhilles.
Kheiron mengajari para pahlawan itu cara berburu dan bertarung. Muridnya yang lain adalah Medos.[32]
Kheiron juga mengajari ilmu pengobatan pada Asklepios, yang kelak menjadi dewa pengobatan, dan dua putranya. Selain itu, Kheiron mengajari Aristaios, dewa pertanian. Kheiron bahkan memberi nasihat ramalan pada Apollo, dewa ramalan. Dionisos, dewa anggur, juga diajari menari dan bernyanyi oleh Kheiron.[33]
Ketika Herakles sedang berkelahi dengan para kentaur saat sedang menjalankan tugas keempatnya,[34] secara tidak sengaja Herakles melukai Kheiron dengan panah yang telah diolesi darah beracun Hidra. Kheiron yang tak bisa mati akhirnya harus terus-menerus menderita rasa sakit yang amat sangat akibat racun itu.
Supaya terbebas dari rasa sakitnya, Kheiron meminta para dewa melepaskan keabadiannya. Setelah tak lagi abadi, Kheiron akhirnya mati akibat racun itu. Para dewa lalu menempatkan Kheiron di langit sebagai rasi bintang Centaurus.
Dalam versi lainnya, kematian Kheiron juga merupakan pengorbanannya pada Prometheus. Prometheus dihukum oleh Zeus dan baru bisa bebas jika ada makhluk abadi yang mau mati demi dia.[35]

Kentaur perempuan
Kentaurenpaar im Wald oleh Heinrich Wilhelm Trübner, menggambarkan satu kentaur perempuan.
Meskipun kentaur perempuan, yang disebut kentaurides, tidak muncul dalam seni dan sastra Yunani kuno awal, namun mereka muncul dalam masa-masa kuno selanjutnya.
Sebuah mosaik Makedonia dari abad k-4 SM[36] adalah salah satu contoh seni kuno yang menampilkan kentaur perempuan. Ovidius[37] juga menyebutkan satu kentaur bernama Hilonome yang bunuh diri ketika suaminya, Killaros, terbunuh dalam perang melawan suku Lapith.
Dalam deskripsi lukisan di Neapolis, retoris Yunani Filostratos Tua menggambarkan kentaur perempuan sebagai istri dan saudari para kentaur pria yang tinggal di Gunung Pelion bersama anak-anak mereka.[38]
“ Betapa cantiknya pada kentaurides, meskipun mereka adalah kuda; beberapa memiliki tubuh kuda putih, beberapa lainnya memiliki tubuh kuda cokelat, dan yang lainnya bertubuh kuda belang, mereka berkilau seperti kuda-kuda yang terawat dengan baik. Ada juga kentaurides berkulit putih yang bertubuh kuda hitam, dan warna mereka yang bermacam-macam menjadikan mereka cantik secara keseluruhan. ”
—Filostratos Tua, Eikones 2. 3.
Gagasan, atau kemungkinan, mengenai kentaur perempuan secara jelas diketahui pada masa mdoern awal, seperti ditulis oleh Shakespeare dalam karyanya King Lear:[39]
“ Dari pinggang ke bawah mereka adalah kentaur, /Namun dari pinggang ke atas mereka adalah perempuan ”
—Shakespeare, King Lear, Babak 4, Adegan 6, Dialog 124–125
Dalam film animasi Disney yang berjudul Fantasia, selama Simfoni pastoral, beberapa tokoh utamanya adalah kentaur perempuan. Akan tetapi, studio Disney menyebut mereka “Centaurettes” alih-alih Kentaurides.

Kentaur memanen anggur pada kapital di Mozac Abbey, Auvergne, Prancis.

Abad pertengahan
Kentaur menunjukkan hubungan dengan Dionisos dalam kapital Romanesque berukir (abad ke-12) di Mozac Abbey, Auvergne, Prancis, sedangkan kapital lainnya menggambarkan pemanen, bocah yang menunggangi kambing (tema Dionisos lainnya) serta griffin yang menjaga piala berisi minuman anggur.
Kentaur digambarkan pada sejumlah batu ukir Pict di daerah timur laut Skotlandia. Batu-batu tersebut didirikan pada abad 8-9 M di Meigle, Perthshire, dll. Meskipun ada di luar daerah kekuasaan Kekaisaran Romawi, namun penggambaran tersebut terbukti berasal dari Romawi.

Pangran Bova bertarung dengan Polkan, lubok Rusia tahun 1860.
Versi Jerome tentang Kehidupan Santo Antonius yang Agung, biarwan pertapa asal Mesir, yang ditulis oleh Athanasius, tersebar secara luas pada Abad Pertengahan; Karya tersebut berisi kisah pertemuan Antonius dengan satu kentaur.
Sang kentaur menantang sang santo namun pada akhirnya terpaksa mengakui bahwa dewa-dewa lama sudah tidak ada. Kisah tersebut cukup sering digambarkan; salah satu yang paling terkenal adalah dalam Pertemuan Santo Antonius Abbot dan Santo Paulus Sang Pertapa buatan Stefano di Giovanni,[40] dari dua penggambaran kisah perjalanan pertapa Antonius untuk menemui pertapa Paulus, salah satunya menggambarkan pertemuannya dengan kentaur berpenampilan jahat di sebuah hutan.
Sejenis makhluk mirip kentaur (berwujud setengah manusia setengah kuda) yang disebut Polkan muncul dalam cetakan lubok dan seni rakyat Rusia pada abad 17-19. Polkan berasal dari Pulicane, makhluk setengah anjing dari sajak karya Andrea da Barberino yang berjudul I Reali di Francia, yang pernah terkenal di daerah-daerah Slavia.
Dalam budaya populer

Kerangka kentaur yang dibuat dengan menggabungkan kerangka manusia dengan zebra, dibuat oleh Skulls Unlimited International.
Kentaur merupakan makhluk dalam mitologi Yunani yang sering digunakan sebagai karakter pendukung dalam kisah-kisah fiksi masa sekarang.
Mereka muncul sebagai suatu ras istimewa. Kisah-kisah yang memunculkan kentaur antara lain kisah-kisah Narnia, Harry Potter, film Clash of the Titan, film Golden Voyage of Sinbad, film Fantasia, serial TV Hercules: The Legendary Journey dan Xena: Warrior Princess.
Perpustakaan John C. Hodges di Universitas Tennessee menggelar pameran tetap berjudul “Kentaur dari Volos”, di dalam perpustakaannya. Pameran itu, diselenggarakan dengan menggabungkan kerangka manusia dengan kerangka kuda poni Shetland dan diberi judul “Apakah Anda percaya Kentaur?” dan dimaksudkan untuk membuat para mahasiswa lebih kritis.[41]
Kentaur adalah simbol yang diasosiasikan dengan persaudaraan Iota Phi Theta dan Delta Lambda Phi. Meskipun secara umum kentaur dalam mitologi Yunani merupakan simbol kekacauan dan nafsu tak terkekang, namun kentaur Delta Lambda Phi didasarkan pada Kheiron dan melambangkan kehormatan, moderasi, dan maskulinitas.
Penulis C.S. Lewis, dalam serinya yang terkenal Chronicles of Narnia, juga menggambarkan kentaur sebagai makhluk yang mulia dan bijaksana. Mereka diberkahi kemampuan astronomi, ramalan, pengobatan, dan keahlian berperang.
Ras kentaur diceritakan sebagai prajurit gagah berani yang selalu setia pada Raja Agung Aslan sang singa. Lewis secara umum menggunakan spesies kentaur untuk membangkitkan kekaguman di antara para pembacanya.

Sampul majalah Weird Tales vol. 36, no. 8 yang menampilkan gambar kentaur.
Album solo Ride a Rock Horse tahun 1975 dari musisi Roger Daltrey dari The Who menampilkan sampul album yang menggambarkan dirinya sebagai seorang kentaur. Fotografi sampul tersebut dilakukan oleh Graham Hughes.
Seri World of Tiers karya Philip Jose Farmer (1965) menampilkan ras kentaur, yang disebut Setengah-Kuda atau Hoi Kentauroi. Makhluk ciptaannya itu menampilan beberapa masalah metabolisme seperti misalnya bagaimana mulut dan hidung manusia dapat mengambil udara yang cukup untuk memelihara tubuh manusia dan kudanya, juga bagaimana alat pencernaan manusia bisa menyuplai nutrisi yang cukup bagi tubuh manusia dan juga kudanya.
Dalam lukisan-lukisan kontemporernya, Erich Kissing menggambarkan dirinya dan beberapa orang lainnya dalam wujud kentaur yang hedonis.

Dalam seri Harry Potter karangan J.K. Rowling, kentaur tinggal di Hutan Terlarang di dekat Hogwarts. Mereka hidup dalam kawanan yang jago dalam memanah, pengobatan, dan astrologi.
Seri Fablehaven karangan Brandon Mull menampilkan kentaur yang hidup di suatu daerah yang disebut Grunhold. Para kentaur itu digambarkan sebagai sekumpulan makhluk yang merasa elit, sombong, dan merasa lebih superior dibandingkan semua makhluk lainnya. Buku keempatnya juga menampulkan spesies variasinya yang disebut Alcetaur, separuh manusia separuh rusa.
Seri Partholon karya P. C. Cast menampilkan sejumlah tokoh kentaur, termasuk tokoh utamanya, Brighid, dari Brighid’s Quest.
Dalam Artemis Fowl karya Eoin Colfer, kentaur adalah makhluk yang paranoid dan cerdas.

About these ads

One response to “Binatang Mitos

  1. Pingback: Wisata Ala Resident Evil 5, Mau? | bijak.net

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s